Senin, 30 Mei 2011

PUTRI JUNJUNG BUIH

Tersebutlah kisah sebuah kerajaan bernama Amuntai di Kalimantan Selatan. Kerajaan itu diperintah oleh dua bersaudara. Raja yang lebih tua bernama Patmaraga, atau diberi julukan Raja Tua. Adiknya si Raja muda bernama Sukmaraga. Kedua raja tersebut belum mempunyai putera ataupun puteri.

Namun diantara keduanya, Sukmaraga yang berkeinginan besar untuk mempunyai putera. Setiap malam ia dan permaisurinya memohon kepada para dewa agar dikarunia sepasang putera kembar. Keinginan tersebut rupanya akan dikabulkan oleh para dewa. Ia mendapat petunjuk untuk pergi bertapa ke sebuah pulau di dekat kota Banjarmasin. Di dalam pertapaannya, ia mendapat wangsit agar meminta istrinya menyantap bunga Kastuba. Sukmaraga pun mengikuti perintah itu. Benar seperti petunjuk para dewa, beberapa bulan kemudian permaisurinya hamil. Ia melahirkan sepasang bayi kembar yang sangat elok wajahnya.
Mendengar hal tersebut, timbul keinginan Raja Tua untuk mempunyai putera pula. Kemudian ia pun memohon kepada para dewa agar dikarunia putera. Raja Tua bermimpi disuruh dewa bertapa di Candi Agung, yang terletak di luar kota Amuntai. Raja Tua pun mengikuti petunjuk itu. Ketika selesai menjalankan pertapaan, dalam perjalanan pulang ia menemukan sorang bayi perempuan sedang terapung-apung di sebuah sungai. Bayi tersebut terapung-apung diatas segumpalan buih. Oleh karena itu, bayi yang sangat elok itu kelak bergelar Puteri Junjung Buih.
Raja Tua lalu memerintahkan pengetua istana, Datuk Pujung, untuk mengambil bayi tersebut. Namun alangkah terkejutnya rombongan kerajaan tersebut, karena bayi itu sudah dapat berbicara. Sebelum diangkat dari buih-buih itu, bayi tersebut meminta untuk ditenunkan selembar kain dan sehelai selimut yang harus diselesaikan dalam waktu setengah hari. Ia juga meminta untuk dijemput dengan empat puluh orang wanita cantik.
Raja Tuapun lalu menyayembarakan permintaan bayi tersebut. Ia berjanji untuk mengangkat orang yang dapat memenuhi permintaan bayi tersebut menjadi pengasuh dari puteri ini. Sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh seorang wanita bernama Ratu Kuripan. Selain pandai menenun, iapun memiliki kekuatan gaib. Bukan hanya ia dapat memenuhi persyaratan waktu yang singkat itu, Ratu Kuripan pun menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat mengagumkan. Kain dan selimut yang ditenunnnya sangatlah indah. Seperti yang dijanjikan, kemudian Raja Tua mengangkat Ratu Kuripan menjadi pengasuh si puteri Junjung Buih. Ia ikut berperanan besar dalam hampir setiap keputusan penting menyangkut sang puteri.

BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Bawang Putih yang piatu suatu hari memiliki ibu dan kakak tiri karena ayahnya menikah lagi. Sayang Ibu dan Saudara tirinya bersikap jahat padanya.

*******
Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja ibu Bawang merah supaya Bawang putih tidak kesepian lagi. Maka ayah Bawang putih kemudian menikah dengan ibu Bawang merah. Mulanya ibu Bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada Bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.”
“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri tepi sungai.
Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.
Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba.
“Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

-------
Sumber :
http://www.freewebs.com/dongengperi/Tales/dong%20indo/merah_putih.html

KLENTENG ANCOL

Cerita rakyat Betawi
Dahulu kala, ada sebuah kapal berlayar dari Negeri China menuju ke pelabuhan Sunda Kelapa, kapal itu milik Sampo Toalang. Di dalam kapal itu ada seorang juru masak yang bernama Ming.
Suatu hari, pada saat dalam perjalanan, tiba-tiba kapal itu diterjang ombak yang sangat besar. Semua orang panik dibuatnya. Mereka tidak menyangka akan adanya ombak besar karena cuaca hari itu sangat bagus.
Tiba-tiba di depan kapal mereka, muncul seekor naga yang amat besar. Dengan menjulurkan lidahnya, naga itu menghadang laju kapal itu. Rupanya naga itulah yang membuat ombak besar sehingga kapal terombang ambing.

Seketika Sampo Toalang mengeluarkan pedangnya, kemudian dia melompat ke arah sang naga dan pertarunganpun tak terhindarkan. Pertarungan itu seru sekali. Setelah lama bertarung, akhirnya naga itu berhasil dibunuh oleh Sampo Toalang. Melihat hal itu, anak buah kapal bersorak gembira karena semua bisa selamat.
Kapal Sampo Toalang kembali melanjutkan perjalanan dengan aman.
Singkat cerita, akhirnya kapal itu sudah mendekati daerah sunda kepala. Namun tiba-tiba Sampo Toalang berkata ”Saudara-saudara, kita akan berlabuh di Ancol, karena Sunda kelapa sedang banjir” ” sekarang kalian turunlah ke darat. Can belilah oabat-obatan dan kamu, Ming, belilah makanan dan minuman”
Akhirnya, semua anak buah Sampo Toalang turun di ancol. Mereka semua menjalankan tugas masing-masing.
Ming sang juru masak pergi ke pasar untuk membeli makanan dan minuman yang akan digunakan sebagai bahan persediaan di kapal.
Di sela-sela belanja, Ming melihat seorang gadis cantik. ”siapa gadis cantik itu, aku ingin tahu namanya” kata Ming dalam hati. Tanpa sungkan-sungkan akhirnya Ming mendatangi gadis itu ”Salam, namaku Ming, bolehkah aku berkenalan denganmu?” tanya Ming. ”Namaku Siti. Lengkapnya Siti Wati” kata gadis cantik itu.
Melihat kecantikan siti, Ming langsung menyukainya. Ming lupa akan tugasnya sebagai juru masak di kapal dan malah akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di Ancol demi si Siti.
Asmara mereka berdua berlanjut dan beberapa bulan kemudian Ming dan Siti Wati menikah.
Ming sangat disukai oleh penduduk Ancol. Dia mengajarkan penduduk Ancol memasak sesuai keahliannya sebagai juru masak.
Telah bertahun-tahun Ming tinggal di Ancol.
Suatu hari Ming dan istrinya sakit keras, entah apa penyakitnya, lama sakit mereka tak sembuh-sembuh dan akhirnya Ming dan Siti Wati meninggal dunia.
Untuk mengenang Ming dan Siti Wati, penduduk Ancol membangun sebuah kelenteng. Kelenteng itu dinamai kelenteng Ancol.
Sumber :
http://panggoengsandiwara.blogspot.com/2008/06/cerita-rakyat-betawi-klenteng-ancol.html

SI JAMPANG JAGO BETAWI

Sepasang suami istri itu bahagia sekali setelah melihat bayi mereka lahir dengan selamat. ”Hem, ini dia anak lelaki pertama gue. Lihat dia nampak sehat dan gagah!”
“Iya Bang ! Anak kita ini nampak gagah sekali ya?”
“Siapa dulu dong Bapaknya? Orang Banten memang gagah-gagah!” sambung si suami.
“Abang selalu mengandalkan asal Abang saja. Tanpa ada aku ibunya yang dari Jampang ini, dia tidak akan pernah ada!”
“Iya deh! Lalu kita beri nama apa dia?” tanya si suami.

Atas persetujuan mereka, setelah berdebat ramai, bayi yang berumur seminggu itu diberi nama si Jampang. Anak itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang benar-benar gagah, ganteng, sebagai pemuda keturunan Banten, ia juga diajari ilmu pencak silat yang sangat terkenal itu ia juga pandai memainkan golok. Jika ia hadir di pesta-pesta keramaian selalu menarik perhatian gadis-gadis remaja.

Sepasang suami istri itu bahagia sekali setelah melihat bayi mereka lahir dengan selamat. ”Hem, ini dia anak lelaki pertama gue. Lihat dia nampak sehat dan gagah!”
“Iya Bang ! Anak kita ini nampak gagah sekali ya?”
“Siapa dulu dong Bapaknya? Orang Banten memang gagah-gagah!” sambung si suami.
“Abang selalu mengandalkan asal Abang saja. Tanpa ada aku ibunya yang dari Jampang ini, dia tidak akan pernah ada!”
“Iya deh! Lalu kita beri nama apa dia?” tanya si suami.

Atas persetujuan mereka, setelah berdebat ramai, bayi yang berumur seminggu itu diberi nama si Jampang. Anak itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang benar-benar gagah, ganteng, sebagai pemuda keturunan Banten, ia juga diajari ilmu pencak silat yang sangat terkenal itu ia juga pandai memainkan golok. Jika ia hadir di pesta-pesta keramaian selalu menarik perhatian gadis-gadis remaja.

Setelah usianya cukup dewasa dia dinikahkan dengan seorang gadis cantik dari dari Kebayoran Lama. Setelah menikah, si Jampang tidak mau hidup serumah dengan kedua orang tuanya. Ia juga tak mau tinggal di rumah mertuanya. Ia lebih suka hidup mandiri. Suka duka akan dijalaninya bersama dengan istri tercinta.

Demikianlah, setelah mengumpulkan perbekalan yang cukup ia membeli tanah dan membangun rumah sendiri yang sederhana. Ia dan keluarganya pindah ke Grogol, Depok.

Ia hidup baik-baik dan bahagia dengan istrinya itu. Namun sayang, setelah dikaruniai anak laki-laki, belum lagi anak itu beranjak remaja, sang istri sudah meninggal. Sejak itu, Jampang hanya hidup dengan anak laki satu-satunya. Anak ini dikenal dengan nama Jampang muda. Dia tumbuh pula menjadi seorang anak muda yang tampan seperti ayahnya.

Si Jampang ingin anaknya menjadi orang soleh yang berguna bagi masyarakat. Maka ia titipkan anak itu di pondok pesantren. Kadang-kadang saja anak itu pulang menemui ayahnya karena ia lebih seneng tinggal di pesantren dengan kawan-kawannya.

Sejak ditinggal mati istrinya si Jampang merasa kesepian. Ia makin sedih melihat kenyataan bahwa kehidupan rakyat Betawi banyak yang menderita. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang kaya dan senang. Maka seperti si Pitung, Jampang kemudian merampok harta orang-orang kaya yang kikir lalu diberikan kepada penduduk yang menderita.

Pada suatu hari anaknya pulang ke rumah.”Ayah, saya tak mau lagi mondok di Pesantren. Saya malu sekali, Yah!” kata anaknya

“Malu? Malu kenapa Tong?” tanya si Jampang penasaran. Tong adalah panggilan sang ayah kepada anaknya.

“Ayah kan orang Banten. Biasanya orang-orang Banten itu alim dan hidup baik-baik. Tapi ayah kok sering merampok? Di Pesantren sudah dibicarakan orang terus. Saya jadi malu sekali, Yah.”

“Kamu tidak perlu memberi nasihat kepada Ayah. Kamu masih anak kemarin, Tong. Sebenarnya kamu pulang punya maksud apa?” tanya ayahnya.

“Saya tidak mau mengaji lagi, Yah.” sahut anaknya.

“Payah, kamu Tong. Tadi memberi nasihat seperti kyai, sekarang tidak mau mengaji lagi. Kamu mau jadi apa? Mau jadi tukang pukul seperti ayahmu ini?”

si Jampang muda menggelengkan kepala, ”Lho jadi apa maumu Tong? Kamu tidak mau mondok? Kalau begitu, lebih baik nikah saja.”

Ciput mengangguk-angguk.

“Ibu seperti kena guna-guna,” kata Abdih, ”Pelakunya tentu Mang Jampang. Sungguh bikin malu. Saya malu sekali. Dukun mana yang bisa menyembuhkan Ibu, Ciput?”

Ciput belum pernah tahu soal guna-guna. Jadi, dia tidak bisa menjawab. Abdih bertanya kesana kemari. Akhirnya dapat berita. Pak Dul di kampung Gabus. Karena dukun itu sendiri yang membuat, dengan tidak menemui kesukaran dia pula yang mencabut guna-gunanya. Mayangsari seketika sembuh. Tidak ingat lagi kepada si Jampang.

Sesudah itu Abdih mencari Jampang. Ia marah tapi ketika bertemu Jampang ia malah tak bisa bersikap keras. Terpaksa ia bicara baik-baik.

“Bisa atau tidak bisa, saya harus menikah dengan Ibumu, Abdih,” kata Jampang menegaskan.

“Saya tidak melarang, Mang Jampang,” jawab Abdih yang ketakutan juga, ”Tetapi ada syaratnya, Mang Jampang harus menyerahkan sepasang kerbau sebagai emas kawinnya.”

“Saya tidak keberatan, Abdih. Saya akan usahakan!”

Abdih pulang menyampaikan kesanggupan Jampang kepada ibunya.

Dari mana dapat kerbau sepasang ? Harga kerbau sepasang sangat mahal. Jampang tidak punya uang. Namun, dia segera ingat Haji Saud di Tambun. Dia kaya sekali. Sawahnya luas, kerbau dua ekor bukan apa-apa. Ke tempat itulah Jampang dan Sarpin pergi merampok dengan mudah. Ketika dia dengan Sarpin akan keluar dari pintu desa, sekawanan polisi sudah mengepung. Mereka menunjukkan laras-laras senapan kearah Jampang dan Sarpin. Tertangkaplah Jampang. Jampang pun tidak bisa melakukan perlawanan.

Orang-orang kaya, tuan-tuan tanah, serta pejabat pemerintah Belanda merasa gembira melihat Jampang telah dipenjara dan akhirnya dihukum mati. Sebaliknya, rakyat kecil, para petani dan mereka yang menderita amat sedih. Walaupun Jampang sering merampok, dia tidak pernah menikmati sendiri hasil rampokannya. Bagi rakyat kecil Jampang adalah sosok pahlawan mereka sering mendapat pembagian hasil rampokan dari orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah yang tamak dan kikir.

Jampang menemui nasib naas ketika merampok sepasang kerbau yang hendak digunakan sebagai Mas Kawin bagi Mayangsari, yang berarti untuk kepentingannya sendiri. Memang cara yang tidak benar, tidak halal, tidak boleh ditiru oleh siapapun agar tidak bernasib sial.

Sumber : http://www.bali-directory.com/education/folks-tale/SiJampangJagoBetawi.asp

PEMBINAAN SISWA MELALUI UPACARA BENDERA

Kegiatan upacara bendera di sekolah setiap Senin pagi masih merupakan kegiatan yang sangat efektif dalam rangka menumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme di kalangan siswa sebagai generasi muda penerus bangsa.
SEMENTARA itu, tujuan yang diharapkan dari kegiatan itu adalah:
1. Membiasakan bersikap tertib dan disiplin.
2. Meningkatkan kemampuan dalam memimpin.
3. Membina kekompakan dan kebersamaan.
4. Belajar untuk menghormati orang lain dan bersedia untuk dipimpin.

Selain itu, kegiatan upacara bendera dapat dijadikan momentum yang tepat bagi sekolah untuk melakukan hal-hal seperti:
1. Mengadakan konsolidasi dan evaluasi kegiatan sekolah selama sepekan.
2. Menyampaikan pengumuman dan informasi penting bagi siswa.
3. Mengamati secara umum kondisi keseluruhan siswa.
Agar pelaksanaan kegiatan upacara bendera dapat berjalan efektif sebagai sarana pembinaan siswa, hendaknya kegiatan yang sudah menjadi rutinitas tersebut dikelola sebaik-baiknya dengan pola perencanaan yang memperhatikan beberapa aspek dan melibatkan seluruh komponen sekolah. Bagi sekolah-sekolah yang telah memiliki pola pembinaan yang baik ditunjang dengan berbagai fasilitas dan situasi yang kondusif, rasanya tidak akan sulit untuk mengoptimalkan tujuan dari kegiatan tersebut. Akan tetapi di beberapa sekolah yang memiliki keterbatasan-keterbatasan, tentunya menuntut kerja keras.
Beberapa indikator keberhasilan kegiatan upacara di sekolah dapat kita lihat dari:
1. Kehadiran kepala sekolah, guru-guru, dan karyawan tata usaha. Kehadiran mereka sudah merupakan contoh sikap dan pembelajaran yang baik bagi siswa. Sebab tidak jarang, pelaksanaan upacara bendera Senin pagi hanya dihadiri beberapa guru saja.
2. Ketepatan waktu. Diupayakan pelaksanaan upacara bendera harus tepat waktu. Upacara bendera di sekolah mendapat alokasi waktu selama satu jam pelajaran. Hal itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, jangan sampai pelaksanaannya melebihi jam pelajaran sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar.
3. Petugas pelaksana upacara yang bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal ini hanya bisa terjadi apabila berlatih dengan sungguh-sungguh dan menerima tugas itu sebagai satu tanggungjawab dan kehormatan yang harus dijunjung tinggi.
4. Jumlah siswa yang mengikuti upacara. Diupayakan seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan upacara bendera tepat waktu.
5. Sarana dan peralatan yang berfungsi dengan baik. Tidak jarang upacara menjadi kacau gara-gara peralatan kurang berfungsi dengan baik.
6. Perencanaan secara terperinci dimulai dari membuat jadwal pelaksanaan upacara per tahun/per semester yang mengacu kepada kalender pendidikan yang berisi mulai dari daftar pembina, petugas upacara, sampai dengan daftar lagu-lagu nasional yang akan dinyanyikan. Bahkan kalau dimungkinkan membuat penilaian setiap kelas yang menjadi petugas upacara dan hasilnya dapat diumumkan di akhir semester/tahun.
Pada akhirnya, kita semua berharap kegiatan upacara bendera di sekolah dapat berfungsi secara efektif sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar dalam rangka membentuk karakter dan kepribadian siswa yang menjunjung nilai-nilai luhur nasionalisme. Dan yang terpenting, siswa dapat mengikutinya dengan sepenuh hati, penuh kesadaran, dan tanggungjawab tanpa unsur keterpaksaan.

Rabu, 18 Mei 2011

PEMBAGIAN KERJA/TUGAS SEKOLAH

A. KEPALA SEKOLAH
Kepala Sekolah sebagai pimpinan, mempunyai tugas :
1. Menyusun perencanaan
2. Mengorganisasikan kegiatan
3. Mengarahkan kegiatan
4. Mengkoordinasikan kegiatan
5. Melakukan evaluasi terhadap kegiatan
6. Menentukan kebijaksanaan
7. Mengadakan rapat
8. Mengambil keputusan
9. Mengatur proses belajar mengajar
10. Mengatur administrasi
- Kantor
- Siswa
- Pegawai
- Perlengkapan
- Keuangan RAPBS
11. Mengatur organisasi siswa intra sekolah
12. Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan dunia usaha.

Kepala sekolah sebagai administrator bertugas menyelenggarakan administrasi,

1. Perencanaan
2. Pengorganisasian
3. Pengarahan
4. Pengkoordinasian
5. Pengawasan
6. Kurikulum
7. Kesiswaan
8. Kantor
9. Kepegawaian
10. Perlengkapan
11. Keuangan
12. Perpustakaan
13. Laboratorium
14. Ruang keterampilan kesenian

Kepala sekolah sebagai supervisor bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai ,
1. Kegiatan belajar mengajar
2. Kegiatan bimbingan dan penyuluhan/bimbingan karir
3. Kegiatan ekstrakurikuler
4. Kegiatan ketatausahaan
5. Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan dunia usaha

B. WAKIL KEPALA SEKOLAH
b.1. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum
Membantu kepala sekolah dalam kegiatan sebagai berikut,
1. Menyusun program pengajaran
2. Menyusun pembagian tugas guru
3. Menyusun kalender pendidikan dan time schedule kegiatan
4. Menyusu jadwal pelajaran
5. Menyusun jadwal evaluasi belajar
6. Menyusun pelaksanaan ujian akhir
7. Menetapkan kriteria penyataan naik kelas/tidak naik kelas
8. Menerapkan jadwal penerimaan buku laporan pendidikan (raport) dan penerimaan STTTB/Ijazah
9. Mengkoordinasikan dan mengarahkan dalam penyusunan materi pembelajaran
10. Menyediakan buku kenaikan kelas
11. Memonitor jalannya KBM





OBAT BATUK HERBAL

3 buah kapulaga, 15 butir kemukus, 1 sendok teh jintan hitam, 1 sendok teh adas, 1 jari pulosari, 2 jari rimpang kencur, dicuci, ditumbuk halus, diremas dengan minyak kelapa 1 sendok makan dan minyak kayu putih 1 sendok teh, untuk melumas dada dan leher.
Ramuan 4:
4 buah kemukus, 1 jari kulit kayu manis, dicuci dan dipotong seperlunya, direbus dengan air bersih 4 gelas makan sehingga hanya tinggal setengahnya; sesudah dingin disaring dan diminum dengan madu murni seperlunya (tiga kali sehari).
*********
Untuk batuk kering:
Jeruk nipis
Ambil 1 buah jeruk nipis yang banyak airnya, peras dan tambahkan 2 sendok makan madu. Aduk lalu diminum dua kali sehari (pagi dan petang).
Belimbing wuluh
Ambil 10 buah belimbing wuluh, cuci bersih lalu ditumbuk halus. Tambahkan 1 cangkir air masak dan sedikit garam sedikit. Setelah diperas dan disaring, minumlah dua kali sehari (pagi dan petang).
Kencur
Ambil 1 jari rimpang kencur (jangan dibuang kulitnya). Cuci bersih dan langsung dikunyah halus dengan garam sedikit. Telan dan gelontor dengan minum air hangat. Lakukan dua kali sehari.
Daun saga
Ambil 1 genggam daun saga beserta tangkainya dan 1 genggam daun asam. Rebus dengan 3 gelas air bersih hingga menjadi 2 gelas. Diamkan sampai menjadi dingin, saring dan minum dua kali sehari.
Sebagai ekspektoran:
Kapulaga
Seduh 5 g serbuk buah adas dengan secangkir air mendidih. Setelah dingin disaring, tambahkan 1 sendok teh madu. Aduk merata, minum sekaligus. Diminum dua kali sehari sampai sembuh.
Lidah buaya
Ambil 1 batang daun lidah buaya dihilangkan durinya. Cuci bersih dan diparut, diperas, lalu diaduk dengan 6 sendok makan madu. Minum beberapa kali.
Sebagai peluruh dahak:
Jahe
Ambil 1/2 ruas jahe dan tumbuk hingga halus. Tambahkan 2 gelas air bersih lalu rebus sampai 1/2 jam. Minum rebusan 2 - 3 kali sehari.
Untuk sesak napas:
Patikan kerbau
Ambil segenggam herba patikan kerbau. Tambahkan air dan lumatkan. Peras menjadi 1/2 mangkuk dan diminum.
Adas
Ambil 10 tetes minyak adas. Seduh dengan 1 sendok makan air panas. Minum selagi hangat. Lakukan tiga kali sehari sampai sembuh.
Untuk batuk lebih dari 100 hari dan kering:
Bidara upas
Ambil 30 g umbi bidara upas yang masih segar, dicuci dan diparut. Tambahkan 2 sendok makan air masak. Saring lalu tambahkan 1 sendok makan madu. Aduk kemudian diminum tiga kali sehari.
Sumber: Intisari



3 buah kapulaga, 15 butir kemukus, 1 sendok teh jintan hitam, 1 sendok teh adas, 1 jari pulosari, 2 jari rimpang kencur, dicuci, ditumbuk halus, diremas dengan minyak kelapa 1 sendok makan dan minyak kayu putih 1 sendok teh, untuk melumas dada dan leher.
Ramuan 4:
4 buah kemukus, 1 jari kulit kayu manis, dicuci dan dipotong seperlunya, direbus dengan air bersih 4 gelas makan sehingga hanya tinggal setengahnya; sesudah dingin disaring dan diminum dengan madu murni seperlunya (tiga kali sehari).
*********
Untuk batuk kering:
Jeruk nipis
Ambil 1 buah jeruk nipis yang banyak airnya, peras dan tambahkan 2 sendok makan madu. Aduk lalu diminum dua kali sehari (pagi dan petang).
Belimbing wuluh
Ambil 10 buah belimbing wuluh, cuci bersih lalu ditumbuk halus. Tambahkan 1 cangkir air masak dan sedikit garam sedikit. Setelah diperas dan disaring, minumlah dua kali sehari (pagi dan petang).
Kencur
Ambil 1 jari rimpang kencur (jangan dibuang kulitnya). Cuci bersih dan langsung dikunyah halus dengan garam sedikit. Telan dan gelontor dengan minum air hangat. Lakukan dua kali sehari.
Daun saga
Ambil 1 genggam daun saga beserta tangkainya dan 1 genggam daun asam. Rebus dengan 3 gelas air bersih hingga menjadi 2 gelas. Diamkan sampai menjadi dingin, saring dan minum dua kali sehari.
Sebagai ekspektoran:
Kapulaga
Seduh 5 g serbuk buah adas dengan secangkir air mendidih. Setelah dingin disaring, tambahkan 1 sendok teh madu. Aduk merata, minum sekaligus. Diminum dua kali sehari sampai sembuh.
Lidah buaya
Ambil 1 batang daun lidah buaya dihilangkan durinya. Cuci bersih dan diparut, diperas, lalu diaduk dengan 6 sendok makan madu. Minum beberapa kali.
Sebagai peluruh dahak:
Jahe
Ambil 1/2 ruas jahe dan tumbuk hingga halus. Tambahkan 2 gelas air bersih lalu rebus sampai 1/2 jam. Minum rebusan 2 - 3 kali sehari.
Untuk sesak napas:
Patikan kerbau
Ambil segenggam herba patikan kerbau. Tambahkan air dan lumatkan. Peras menjadi 1/2 mangkuk dan diminum.
Adas
Ambil 10 tetes minyak adas. Seduh dengan 1 sendok makan air panas. Minum selagi hangat. Lakukan tiga kali sehari sampai sembuh.
Untuk batuk lebih dari 100 hari dan kering:
Bidara upas
Ambil 30 g umbi bidara upas yang masih segar, dicuci dan diparut. Tambahkan 2 sendok makan air masak. Saring lalu tambahkan 1 sendok makan madu. Aduk kemudian diminum tiga kali sehari.
Sumber: Intisari


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons